Friday, 25 January 2019

Tidak Hanya Menarik, Jadilah Bermanfaat




Tidak Hanya Menarik, Jadilah Bermanfaat
 



“Masa liburan telah tiba, itu artinya aku akan menjadi pengangguran selama kurang lebih satu bulan”, pikirku disela-sela belajar pada malam ujian terakhir.  Hingga aku teringat pada blog yang hanya berisi konten ‘semauku’ saja, aku pikir aku akan mulai mengelolanya, sehingga paling tidak dapat bermanfaat lebih banyak untuk banyak orang. Lalu aku berpikir sejenak sembari membereskan buku-buku dan ringkasan. Mengambil salah satu buku anotologi esai, dan mulai membaca di sisi tempat tidur.
Berawal dari membaca sebuah buku mengenai blog, aku yang waktu itu sudah terlanjur mencintai menulis, tentu saja ingin memiliki blog. Sehingga aku bersemangat untuk membuat blog, dan kemudian memasukkan tulisan-tulisan yang sebelumnya pernah ku tulis di buku. Aku menuliskan beberapa cerpen dan artikel yang waktu itu ku pikir sudah sangat layak untuk dipublikasikan dan dinikmati oleh banyak orang. Aku membuat blog pada tahun 2016.
Setelah memuat beberapa tulisan, aku mulai meninggalkan blog, bukan karena aku tidakk menyukainya lagi, tetapi aku merasa belum bisa untuk membagi waktu antara mengerjakan hobi dan juga kewajibanku sebagai pelajar SMA waktu itu.  Ketika aku membuka blog, dan belajar untuk menjadi blogger aku bisa menghabiskan banyak waktu untuknya, hingga tugas-tugas sekolah terbengkalai, dan aku dapat meninggalkan jam tidur malam. Sehingga aku putuskan untuk tidak mengurusi blog untuk beberapa waktu.
Masa SMA memang masa-masa indah sejauh aku menuntut ilmu sedari TK. Banyak tugas-tugastak terduga yang membuat ‘beberapa waktu’ yang ku tentukan sebelumnya, menjadi berjangka panjang, dan diluar ketentuan yang sebelumnya ku sepakati dengan diri sendiri. Aku terlalu menikmati masa sekolah, dengan banyaknya tugas, dan dengan banyak perjalanan yang saat ini kusebut dengan kenangan. Pada suatu ketika, aku mengikuti sebuah pelatihan menulis yang dilakukan  dalam jangka waktu beberapa bulan, dan aku mengikuti kelas menulis esai. Kelas menulis esai, bagiku adalah kelas yang sesungguhnya kubutuhkan. Dimana aku mendapatkan kebebasan untuk menulis, tetapi juga masih dapat dikonsumsi oleh banyak orang, yang artinya bukanlah karya fantasi.
Dari kegiatan tersebut, semangatku untuk menulis kembali membara. Aku kembali sering mengikuti lomba menulis esai, yang meskipun belum pernah menang. Tetapi itu sudah cukup membahagiakan bagiku, mendapat penghargaan atau tidak, bukanlah masalah bagiku, yang terpenting aku dapat menyalurkan hobiku dan merasa bahagia. Tak lepas pula, aku tetap menulis cerpen, karena cerpen adalah awal mula mengapa aku menulis. Aku pun sangat bahagia menulis cerpen, ia sangat mengasyikkan. Jarang sekali aku menulis cerpen diluar pengalamanku sendiri. Sehigga hampir 90 persen cerpen yang ku tulis adalah berdasarkan pengalaman pribadi. Untuk cerpen, lumayan. Ada beberapa cerpen yang dimuat oleh media online yang ku kirimi cerpenku, dan beberapa kemanangan dari lomba yang aku ikuti.
Sekian lama kembali menulis, aku teringat blog yang sudah lama tidak aku buka. Ketika aku membuka blog, aku membaca beberapa tulisanku, yang menurutku kurang enak dinikmati, jadi aku putuskan untuk menghapus postingan-postingan terdahulu, dan memulai blog dari awal. Aku mulai mencari tema latar yang cantik untuk blogku, dan menuliskan pesan pembuka sedemikian rupa. Kemudian aku menuliskan sebah puisi di blog, karena waktu itu aku sedang sedih karena merasakan kegagalan yang menurutku cukup luar biasa membuatku terpukul. Tetapi di dalam puisi itu, kusiratkan pesan agar betapapun sedihnya kita, jangan membuat orang lain turut merasakan kesedihan kita. Cukup kebahagiaan saja yang dirasakan bersama dengan orang-orang tersayang. Dan yang terpenting, apapun yang terjadi, ingatlah bahwa segala yang terjadi sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan, dan apapun yang terjadi kita masih tetap bisa menjadi manusia yang selalu bersyukur dan selalu mempunyai Tuhan untuk berkeluh kesah.
Beberapa hari setelahnya, aku membuka blog kembali, untuk mengisi kegiatan di waktu mengganggur. Aku membaca puisi tersebut masih dengan perasaan yang sama, kecewa dan sedih. Lau aku segera menghilangkan perasaan itu, dan memetik dari puisi tersebut sebuah ide. Aku harus mengisi konten di blog ini dengan tulisan-tulisan baik puisi, cerpen maupun yang lan dengan penuh makna di dalamnya, jadi aku tidak akan membiarkan orang selesai membaca  tulisanku, tanpa memetik makna sedkitpun dari tulisanku.
Selepas itu, mulailah aku sering menulis cerpen, yang penuh ku siratkan makna-makna kehidupan. Semakin lama, semakin bertambah usia, aku mengamati bahwa kelakuan anak-anak muda di masa kini sungguh cukup memprihatinkan. Mungkin, banyak generasi dengan ide-ide bru dan cemerlang dengan bantuan teknoloi yang ada untuk ikut mengaharumkan nama Indonesia, tetapi tak sedikit pula yang justru terjerumus dalam ‘kenikmatan’ teknologi yang kemudian menjadikan mereka anak muda yang kehilangan jati diri, sebagai bangsa Indonesia.
Ketika kita berada di pusat perbelanjaan, di jalan, atau di tempat-tempat umum lainnya, mari kita perhatikan, berapa banyak anak muda yang memegang ponsel pintarnya dan berapa banyak anak muda yang mengobrol dengan orang lain disekitarnya. Cukup kita hitung dengan jari tangan, atau bahkan dapat juga langsung dihitung dengan kedua telapak tangan yang mengepal. Sehingga sebagai generasi muda yang masih menyadari kedaan sekitar, aku berpikir untuk melakukan setidaknya sedikit hal yang dapat membuka mata banyak orang.
Media sosial bukanlah hal yang asing di zaman sekarang. Segala sesuatu dapat kita akses di layar monitor laptop, atau bahkan berada di genggaman. Dengan kenyataan yang ada, aku berniat untuk semakin banyak menuliskan hal-hal bermanfaat yang dikemas dengan tulisan menarik, sehingga tetap eye catching, dan paling tidak orang-orang yang membaca minimal tahu, sebelum mereka benar-benar melakukan hal-hal baik dan bermanfaat di kehidupan mereka. Sebelumnya memang cerpen yang kutuliskan mengandung makna di kehidupan, tetapi nantinya aku akan menunjukkan nilai-nilai kehidupan dengan lebih tajam, karena jika terus menerus diberi dengan kelembutan, mungkin banyak pula yang hanya akan abai pada pesan yang terkandung, dan merasa bahwa tidak perlu untuk melakukan hal tersebut.



Jenuh, hingga aku memutuskan untuk bersantai membaca buku di sebuah perpustakaan. Dengan suasana tenang, dan aroma-aroma buku yang bertebaran, aku bersandar santai dan membalikkan lembar demi lembar dengan rakus. Mengetahui ada orang lain di samping, aku memulai obrolan kecil, hingga menjalar ke pembahasan mengenai dunia blog. Bertukar pikiran cukup lama dengan orang baru, aku mendengarkannya dengan seksama. Ia bercerita bagaimana ia sangat mencintai membaca dibandingkan menonton film atau video. Ia bahkan menyuruhku untuk menghitung berapa pasang telapak tangan yang menari-nari diantara buku-buku pada rak yang tersusun rapi, untuk menemukan buku yang ia butuhkan, untuk memuaskan dahaga.
Ia juga memaparkan, betapa nikmatnya membaca. Kita bisa membangun imajinasi kita sendiri mengenai apa yang kita baca, tanpa campur tangan orang lain. Dengan naskah yang sama, hasil bacaan kita dan film, akan berbeda jauh, katanya. Misalnya saja, kita membaca sebuah novel, lalu novel tersebut di filmkan, kita yang sudah pernah membaca pasti merasakan betapa berbedanya alur cerita yang kita dapat dari hasil bacaan dan dari hasil tayangan film. Hal itu cukup berguna di buku bacaan lain, buku pengetahuan misalnya. Dengan satu buku yang sama, banyak anak muda akan dapat menciptakan kreasi yang berbeda-beda. Tetapi dari satu buah video dan film yang sama, rata-rata banyak orang akan memliki kesamaan dalam pesan yang dipetik. Intinya, dengan membaca, pesan akan lebih tersampaikan dan mengena di hati dan pikiran kita, ketimbang hanya menonton.
Dengan waktu yang masih berjalan, kita masih bisa mengembangkan banyak cara dan kreativitas untuk dapat menciptakan tulisan yang menarik dan sarat makna. Tepat. Obrolan ringan kami ternyata sesuai dengan apa yang kegelisahan hatiku butuhkan saat itu. Ia menyadarkan ku, bahwa tetap ada, bahkan banyak orang yang tetap suka membaca tulisan. Menulis adalah hal yang keren dan menakjubkan. Lihat saja, tidak banyak orang yang menulis, karena kita tahu, bahwa tulisan selalu membutuhkan ide. Sebenarnya, sama halnya dengan mebuat video, seseorang juga perlu berfikir keras untuk membuat sebuah konten video. Tetapi ada satu hal yang menarik dari menulis, pesan dari jari, akan tersampaikan ke hati.
Apakah seorang blogger hanya cukup menulis di depan layar monitor, dan berdiam diri di kamar? Tentu saja tidak. Untuk menjadi seorang penulis yang dapat menyampaikan pesan, kita juga perlu untuk berjalan-jalan santai ke luar rumah, ke luar kota, atau bahkan ke luar negri. Banyak hal yang dapat kita sampaikan dari sana. Untuk mendorong generasi muda agar tetap dapat bermimpi besar, belajar dari banyak pengalaman, dan menciptakan imajinasi-imajinasi diri mereka sendiri dengan tulisan-tulisan yang mereka baca. Hal ini cukup membantu pula, bagi orang-orang yang tidak ingin mempublikasikan dirinya, tetapi ingin menebarkan tulisan-tulisan bermanfaat. Dengan hanya menulis, menjadi seorang blogger, dirinya akan tetap menyampaikan banyak hal dari pengetahuan dan wawasannya agar dapat dipelajari oleh banyak orang, tanpa harus mengganggu privasinya. 




 Aku tersenyum. Dan bergegas pulang dari perpustakaan, dengan dua eksemplar buku bersampul coklat dan coklat muda. Sepanjang perjalanan pulang aku membayangkan bagaimana jemariku akan menari indah di atas papan ketik dan menghasilkan sebuah tarian, tarian huruf-huruf yang akan menari-nari di pikiran banyak orang, mengubah banyak hal dan menyebarkan manfaat kebaikan. Aku pikir, orang juga perlu untuk duduk sendirian di ruangan ternyamannya, membaca, dan kemudian mentikkan air mata untuk bertekad menjadi generasi keren, yang berprestasi, bertutur sopan dan bertingkah santun, serta bermanfaat bagi banyak orang.

0 comments:

Post a Comment