Tidak Hanya
Menarik, Jadilah Bermanfaat
“Masa liburan telah tiba, itu
artinya aku akan menjadi pengangguran selama kurang lebih satu bulan”, pikirku
disela-sela belajar pada malam ujian terakhir. Hingga aku teringat pada blog yang hanya berisi
konten ‘semauku’ saja, aku pikir aku akan mulai mengelolanya, sehingga paling
tidak dapat bermanfaat lebih banyak untuk banyak orang. Lalu aku berpikir sejenak
sembari membereskan buku-buku dan ringkasan. Mengambil salah satu buku
anotologi esai, dan mulai membaca di sisi tempat tidur.
Berawal dari membaca sebuah buku
mengenai blog, aku yang waktu itu sudah terlanjur mencintai menulis, tentu saja
ingin memiliki blog. Sehingga aku bersemangat untuk membuat blog, dan kemudian
memasukkan tulisan-tulisan yang sebelumnya pernah ku tulis di buku. Aku
menuliskan beberapa cerpen dan artikel yang waktu itu ku pikir sudah sangat
layak untuk dipublikasikan dan dinikmati oleh banyak orang. Aku membuat blog
pada tahun 2016.
Setelah memuat beberapa tulisan,
aku mulai meninggalkan blog, bukan karena aku tidakk menyukainya lagi, tetapi
aku merasa belum bisa untuk membagi waktu antara mengerjakan hobi dan juga
kewajibanku sebagai pelajar SMA waktu itu.
Ketika aku membuka blog, dan belajar untuk menjadi blogger aku bisa
menghabiskan banyak waktu untuknya, hingga tugas-tugas sekolah terbengkalai,
dan aku dapat meninggalkan jam tidur malam. Sehingga aku putuskan untuk tidak
mengurusi blog untuk beberapa waktu.
Masa SMA memang masa-masa indah
sejauh aku menuntut ilmu sedari TK. Banyak tugas-tugastak terduga yang membuat
‘beberapa waktu’ yang ku tentukan sebelumnya, menjadi berjangka panjang, dan
diluar ketentuan yang sebelumnya ku sepakati dengan diri sendiri. Aku terlalu
menikmati masa sekolah, dengan banyaknya tugas, dan dengan banyak perjalanan
yang saat ini kusebut dengan kenangan. Pada suatu ketika, aku mengikuti
sebuah pelatihan menulis yang dilakukan
dalam jangka waktu beberapa bulan, dan aku mengikuti kelas menulis esai.
Kelas menulis esai, bagiku adalah kelas yang sesungguhnya kubutuhkan. Dimana
aku mendapatkan kebebasan untuk menulis, tetapi juga masih dapat dikonsumsi
oleh banyak orang, yang artinya bukanlah karya fantasi.
Dari kegiatan tersebut,
semangatku untuk menulis kembali membara. Aku kembali sering mengikuti lomba
menulis esai, yang meskipun belum pernah menang. Tetapi itu sudah cukup
membahagiakan bagiku, mendapat penghargaan atau tidak, bukanlah masalah bagiku,
yang terpenting aku dapat menyalurkan hobiku dan merasa bahagia. Tak lepas
pula, aku tetap menulis cerpen, karena cerpen adalah awal mula mengapa aku
menulis. Aku pun sangat bahagia menulis cerpen, ia sangat mengasyikkan. Jarang
sekali aku menulis cerpen diluar pengalamanku sendiri. Sehigga hampir 90 persen
cerpen yang ku tulis adalah berdasarkan pengalaman pribadi. Untuk cerpen,
lumayan. Ada beberapa cerpen yang dimuat oleh media online yang ku kirimi
cerpenku, dan beberapa kemanangan dari lomba yang aku ikuti.
Sekian lama kembali menulis, aku
teringat blog yang sudah lama tidak aku buka. Ketika aku membuka blog, aku
membaca beberapa tulisanku, yang menurutku kurang enak dinikmati, jadi aku putuskan
untuk menghapus postingan-postingan terdahulu, dan memulai blog dari awal. Aku
mulai mencari tema latar yang cantik untuk blogku, dan menuliskan pesan pembuka
sedemikian rupa. Kemudian aku menuliskan sebah puisi di blog, karena waktu itu
aku sedang sedih karena merasakan kegagalan yang menurutku cukup luar biasa
membuatku terpukul. Tetapi di dalam puisi itu, kusiratkan pesan agar betapapun
sedihnya kita, jangan membuat orang lain turut merasakan kesedihan kita. Cukup
kebahagiaan saja yang dirasakan bersama dengan orang-orang tersayang. Dan yang
terpenting, apapun yang terjadi, ingatlah bahwa segala yang terjadi sudah
diatur sedemikian rupa oleh Tuhan, dan apapun yang terjadi kita masih tetap
bisa menjadi manusia yang selalu bersyukur dan selalu mempunyai Tuhan untuk
berkeluh kesah.
Beberapa hari setelahnya, aku
membuka blog kembali, untuk mengisi kegiatan di waktu mengganggur. Aku membaca
puisi tersebut masih dengan perasaan yang sama, kecewa dan sedih. Lau aku
segera menghilangkan perasaan itu, dan memetik dari puisi tersebut sebuah ide.
Aku harus mengisi konten di blog ini dengan tulisan-tulisan baik puisi, cerpen
maupun yang lan dengan penuh makna di dalamnya, jadi aku tidak akan membiarkan
orang selesai membaca tulisanku, tanpa
memetik makna sedkitpun dari tulisanku.
Selepas itu, mulailah aku sering
menulis cerpen, yang penuh ku siratkan makna-makna kehidupan. Semakin lama,
semakin bertambah usia, aku mengamati bahwa kelakuan anak-anak muda di masa
kini sungguh cukup memprihatinkan. Mungkin, banyak generasi dengan ide-ide bru
dan cemerlang dengan bantuan teknoloi yang ada untuk ikut mengaharumkan nama
Indonesia, tetapi tak sedikit pula yang justru terjerumus dalam ‘kenikmatan’
teknologi yang kemudian menjadikan mereka anak muda yang kehilangan jati diri,
sebagai bangsa Indonesia.
Ketika kita berada di pusat
perbelanjaan, di jalan, atau di tempat-tempat umum lainnya, mari kita
perhatikan, berapa banyak anak muda yang memegang ponsel pintarnya dan berapa
banyak anak muda yang mengobrol dengan orang lain disekitarnya. Cukup kita hitung
dengan jari tangan, atau bahkan dapat juga langsung dihitung dengan kedua
telapak tangan yang mengepal. Sehingga sebagai generasi muda yang masih
menyadari kedaan sekitar, aku berpikir untuk melakukan setidaknya sedikit hal
yang dapat membuka mata banyak orang.
Media sosial bukanlah hal yang
asing di zaman sekarang. Segala sesuatu dapat kita akses di layar monitor
laptop, atau bahkan berada di genggaman. Dengan kenyataan yang ada, aku berniat
untuk semakin banyak menuliskan hal-hal bermanfaat yang dikemas dengan tulisan
menarik, sehingga tetap eye catching,
dan paling tidak orang-orang yang membaca minimal tahu, sebelum mereka
benar-benar melakukan hal-hal baik dan bermanfaat di kehidupan mereka. Sebelumnya
memang cerpen yang kutuliskan mengandung makna di kehidupan, tetapi nantinya
aku akan menunjukkan nilai-nilai kehidupan dengan lebih tajam, karena jika
terus menerus diberi dengan kelembutan, mungkin banyak pula yang hanya akan
abai pada pesan yang terkandung, dan merasa bahwa tidak perlu untuk melakukan
hal tersebut.

Jenuh, hingga aku memutuskan
untuk bersantai membaca buku di sebuah perpustakaan. Dengan suasana tenang, dan
aroma-aroma buku yang bertebaran, aku bersandar santai dan membalikkan lembar
demi lembar dengan rakus. Mengetahui ada orang lain di samping, aku memulai
obrolan kecil, hingga menjalar ke pembahasan mengenai dunia blog. Bertukar
pikiran cukup lama dengan orang baru, aku mendengarkannya dengan seksama. Ia
bercerita bagaimana ia sangat mencintai membaca dibandingkan menonton film atau
video. Ia bahkan menyuruhku untuk menghitung berapa pasang telapak tangan yang
menari-nari diantara buku-buku pada rak yang tersusun rapi, untuk menemukan
buku yang ia butuhkan, untuk memuaskan dahaga.
Ia juga memaparkan, betapa
nikmatnya membaca. Kita bisa membangun imajinasi kita sendiri mengenai apa yang
kita baca, tanpa campur tangan orang lain. Dengan naskah yang sama, hasil
bacaan kita dan film, akan berbeda jauh, katanya. Misalnya saja, kita membaca sebuah
novel, lalu novel tersebut di filmkan, kita yang sudah pernah membaca pasti
merasakan betapa berbedanya alur cerita yang kita dapat dari hasil bacaan dan
dari hasil tayangan film. Hal itu cukup berguna di buku bacaan lain, buku
pengetahuan misalnya. Dengan satu buku yang sama, banyak anak muda akan dapat
menciptakan kreasi yang berbeda-beda. Tetapi dari satu buah video dan film yang
sama, rata-rata banyak orang akan memliki kesamaan dalam pesan yang dipetik.
Intinya, dengan membaca, pesan akan lebih tersampaikan dan mengena di hati dan
pikiran kita, ketimbang hanya menonton.
Dengan waktu yang masih berjalan,
kita masih bisa mengembangkan banyak cara dan kreativitas untuk dapat
menciptakan tulisan yang menarik dan sarat makna. Tepat. Obrolan ringan kami
ternyata sesuai dengan apa yang kegelisahan hatiku butuhkan saat itu. Ia
menyadarkan ku, bahwa tetap ada, bahkan banyak orang yang tetap suka membaca
tulisan. Menulis adalah hal yang keren dan menakjubkan. Lihat saja, tidak
banyak orang yang menulis, karena kita tahu, bahwa tulisan selalu membutuhkan
ide. Sebenarnya, sama halnya dengan mebuat video, seseorang juga perlu berfikir
keras untuk membuat sebuah konten video. Tetapi ada satu hal yang menarik dari
menulis, pesan dari jari, akan tersampaikan ke hati.
Apakah seorang blogger hanya
cukup menulis di depan layar monitor, dan berdiam diri di kamar? Tentu saja
tidak. Untuk menjadi seorang penulis yang dapat menyampaikan pesan, kita juga
perlu untuk berjalan-jalan santai ke luar rumah, ke luar kota, atau bahkan ke luar
negri. Banyak hal yang dapat kita sampaikan dari sana. Untuk mendorong generasi
muda agar tetap dapat bermimpi besar, belajar dari banyak pengalaman, dan
menciptakan imajinasi-imajinasi diri mereka sendiri dengan tulisan-tulisan yang
mereka baca. Hal ini cukup membantu pula, bagi orang-orang yang tidak ingin mempublikasikan
dirinya, tetapi ingin menebarkan tulisan-tulisan bermanfaat. Dengan hanya
menulis, menjadi seorang blogger, dirinya akan tetap menyampaikan banyak hal
dari pengetahuan dan wawasannya agar dapat dipelajari oleh banyak orang, tanpa
harus mengganggu privasinya.
![]() |
Aku tersenyum. Dan bergegas
pulang dari perpustakaan, dengan dua eksemplar buku bersampul coklat dan coklat
muda. Sepanjang perjalanan pulang aku membayangkan bagaimana jemariku akan
menari indah di atas papan ketik dan menghasilkan sebuah tarian, tarian
huruf-huruf yang akan menari-nari di pikiran banyak orang, mengubah banyak hal
dan menyebarkan manfaat kebaikan. Aku pikir, orang juga perlu untuk duduk
sendirian di ruangan ternyamannya, membaca, dan kemudian mentikkan air mata
untuk bertekad menjadi generasi keren, yang berprestasi, bertutur sopan dan
bertingkah santun, serta bermanfaat bagi banyak orang.


0 comments:
Post a Comment