Thursday, 13 June 2019

Kunyah Dulu, Baru Ditelan


“Model rambut saja berubah di tiap tahunnya, apalagi pola pikir manusia”  Tidak bisa dipungkiri, perubahan adalah hal yang akan dan harus terjadi pada kehidupan, terlebih manusia adalah makhluk dinamis. Perubahan-perubahan yang ada, sebenarnyya terjadi atas keinginan-keinginan manusia generasi sebelumnya yang akhirnya dapat terealisasikan. Teknologi merupakan salah satu pemeran utama atas terjadinya perubahan. Teknologi melahirkan kecepatan dan kemudahan melakukan sesuatu, melalui berbagai metode dan alat-alat canggih. Sehingga segala sesuatu di masa ini, hampir tidak bisa terlepas dari teknologi.
Generasi milenial, yang lahir setelah generasi X dan Y tentu saja tidak asing lagi dengn internet, bahkan jika diberi dua pilihan, makan atau internet, pilihan terbanyak bisa jatuh kepada intenet. Tak ayal, para pengguna internet ini, tidak lepas dari dunia maya. Setiap yang nyata di dunia, punya peran di dunia maya. Bahkan segala sesuatu, kini sudah memiliki produk virtual nya.
Salah satunya adalah media sosial. Seperti namanya, media sosial digunakan untuk bersosialisasi dengan banyak orang di berbagai tempat di belahan dunia. Dari yang pada kenyataannya bisa ditemui dengan hitungan jam, bahkan dengan hitungan hari. Di media sosial, setidaknya ada lebih dari satu hal dapat kita lakukan. Sejauh berkembangnya zaman, media sosial tentu saja dimanfaatkan secara komersil. Para pedagang menjajakan daganganya dengan media sosial, dibubuhi kata-kata yang cantik, dan gambar produk yang terlihat epic. Selan itu, bisnis berbasis online menawarkan berbagai informasi yang sedang naik di publik, diberikan gambar dengan judul artikel yang seringkali menciptakan rasa penasaran dan  terkadang menimbulkan kontroversi, sehingga dapat menaikkan sumber lalu lintas produk mereka.
Generasi milenial, ingin tahu banyak hal, ingin mencoba banyak hal, mencari jati diri, dan menemukan passion. Banyak cara ditempuh, tanpa lebih dahulu memahami ilmunya. Semakin akrabnya dengan informasi yang marak di publik, makin banyak teman ngobrolnya, entah informasi yang dibincangkan itu benar atau tidak, asal melihat judul. Supaya terlihat paham dan up to date dengan isu-isu sosial politik. Jangankan membaca isi beritanya, dengan melihat judul yang nyentrik  saja, sudah membulatkan tekadnya untuk menyalin dan segera membagika informasi tersebut di berbagai laman media sosial yang dimiliki.
Akhirnya berita yang belum pasti kebenarannya, semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Tidak terdapat titik temu, hanya saling lempar pendapat antar para pengguna. Lama-kelamaan muncul berbagai pro dan kontra, hingga bahan yang diperdebatkan bukan lagi berita tadi, tetapi justru pendapat para pengguna media sosial, dan saling ketidakpahaman yang justru menimbulkan masalah, baik yang berujung damai hingga yang berujung di meja hijau. Disebabkan oleh berita hoax yang belum tentu berkaitan dengan kehidupan kita, pendapat yang tidak didasari ilmu dan pengetahuan justru menjadi bumerang untuk diri sendiri.
Rendahnya minat baca pada generasi milenial merupakan sebab sederhana untuk berbagai masalah. Keinginan unuk mendapatkan segala sesuatu secara praktis menjadi salah satu pemicunya. Asal dari media ini itu, serta berbagai foto dan video dari hasil editing yang berkualitas. Tidak perlu jauh-jauh, bagi para milenial, cobalah intropeksi diri. Berapa eksemplar buku yang menjadi target bacaan hari ini? Berapa lembar buku yang sudah dibaca hari ini? Berapa banyak paragraf yang dipahami hari ini? Berapa kalimat yang menjadi motivasi hari ini? Berapa banyak hal baik yang sudah dihasilkan hari ini? Cukup jawab dalam hati, dan mulai berusaha untuk bisa menjawab pertanyaan-pernyataan ini lagi dengan menyebutkan angka-angka sebagai jawabannya.
            Banyaknya bacaan, berkualitasnya bacaan, dan matangnya ilmu pengetahuan akan melahirkan pemikiran-pemikiran positif yang berbobot. Sehingga generasi milenial tidak menjadi generasi yang mudah ditarik ulur oleh berita yang simpang siur. Justru menjadi solusi dari masalah dan isu-isu sosial politik yang mudah bertebaran dan direkayasa oleh pihak yag tidak bertanggung jawab. Dengan demikian membantu negara untuk dapat mengurusi hal lain, dan menjadikan Indonesia menjadi negara yang lebih maju dengan penduduk yang lebih cerdas.