Tuesday, 4 July 2017

[[Resensi]] Stranded With the Sergeant-Cathie Linz



 
Nama : Pramudhita Mega Maharani
Kelas : XII IPA / 11


RESENSI





1. Identitas Novel 
A. Judul : STRANDED WITH THE SERGEANT
B. Pengarang : Cathie Linz
C. Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
D. Tahun terbit : Maret 2009
E. Kota terbit : Jakarta
F. Tebal : 232 halaman

2. Sinopsis
Saat itu Joe Wilder sedang beradA di kantor atasannya, Sersan Mayor Martin. Ia dIberi tugas untuk mengawal tour anak kelas enam, yang salah satu diantara pesert tour itu adalah ‘putri kecil’ nya. Ternyata ‘putri kecil’ yang dimaksud oleh atasannya bukanlah salah satu dari anak kelas enam itu, melainkan guru mereka, guru yang cantik dan juga seksi. Perjalanan tour itu ternyata tetap terlaksana, walaupun banyak perebatan sebelumnya. Singkatnya mereka sampai di Sunshine Trailhead, saat berada di tengah hutan, datanglah badai salju, hingga Joe Wilder menemukan kabin untuk mereka berlindung sampai badai salju reda dan helikopter penyelamat menjemput mereka. Di kabin itulah rasa cinta Joe dan Prudence mulai muncul dan berkembang, sejak sebelumnya mereka berdua selalu berdebat tentang segalanya. Mereka mulai menceritakan kisah masa lalunya, hingga ternyata mereka sempat menjadi teman masa kecil selama beberapa waktu, saat ayah mereka ditugaskan di tempat yang sama. Ketika badai salju berlalu mereka kemudian dijemput helikopter dan kembali ke tempat tinggal masing-masing. Tetapi mereka tidak bisa melupakan rasa cinta satu sama lain, hingga akhirnya terkumpullah keberanian Sersan Joe Wilder untuk meminta Prudence kepada ayahnya, Sersan Mayor Martin. Dan jawaban Sersan Mayor Martin membuat Joe sangat terkejut, karena tujuan Sersan Mayor Martin menugaskan Joe untuk mengawal tour anak kelas enam itu adalah untuk menjodohkan Joe Wilder, yang merupakan anak dari teman baiknya, yaitu Sersan Bill Wilder dengan Prudence, yang memang ia tahu mereka adalah teman dekat semasa kecil. Akhirnya Joe Wilder pun menikah dengan Prudence.

3. Unsur intrinsik
A. Tema  
Kisah cinta seorang Marinir yang terjebak dalam rasa bersalah pada kecelakaan helikopter di masa lalunya dengan putri atasannya yang juga terjebak dalam kondisi ‘teramat sangat’ hati-hati setelah kecelakaan yang ia alami dengan ibunya.

B. Alur
Cerita pada novel “Stranded With the Sergeant” ini menggunakan alur mundur.
Dimulai dari Sersan Joe yang ditugaskan untuk menemani putri atasannya, Prudence melakukan tour bersama murid kelas enamnya. Lalu mereka terjebak di hutan saat datang badai salju, hingga mereka menemukan kabin untuk berteduh. Saat malam tiba dan anak-anak tertidur, mereka menceritakan masa lalu mereka, dan ternyata mereka adalah teman dekat semasa kecil. Oleh karena itu, rasa cinta yang tumbuh pada diri mereka semakin berkembang. Setelah mereka pulang dari tour itu, Joe tidak dapat lagi menahan rasa cintanya, ia lalu meminta untuk menikahi Prudence pada ayahnya, atasannya sendiri. Ayahnya setuju. Dan ternyata, alasan ayah Prudence menugaskan Joe menemani tour itu adalah untuk menjodohkan mereka.

C. Latar  
*Latar Tempat :
1. Kamp Lejeune, pesisir Carolina Utara (“Ia baru saja dipindahkan ke Kamp Lejeune ini, yang letaknya di pesisir Carolina Utara, setelah menyelesaikan tugas luar negeri yang ingin segera dilupakannya” hal.9)
2. Ruang olahraga Dixon Middle School (“Dimana sih ruang olahraga itu?--Selamat datang di Dixon Middle School” hal.173
3. Menara Bungee (menara Bungee itu bahkan sukses besar. Ada sekelompok orang berkerumun di bawah menara saat Joe sampai disana” hal.143)
4. Kabin pemburu (“ini kabin pemburu yang dibangun untuk keperluan mendesak. Aku akan keluar dan mengumpulkan kayu bakar lagi” hal.77)
5. The Sunshine Trailhead (“The Sunshine Trailhead ternyta tidak semegah namanya. Kenyataannya tempat itu hanyalah tempat parkir berkerikil” hal. 46)
*Latar Waktu :
1. Siang hari (“Joe mengoreksi ucapan atasannya dengan sikap hormat, berusaha mengabaikan sinar matahari Carolina Utara yang terpantul di dinding putih kantor Sersan Mayor” hal.7)
2. Malam hari (“berani bertaruh komputer kecilmu pasti tak bisa memberi tahu bahwa dari puncak pegunungan pada malam seperti ini, kita bisa melihat sinar korek api dari jarak delapan puluh kilometer” hal.62)
3. Musim Salju (“Salju sudah menutupi semua dataran, membuat keadaan sekeliling mereka tampak asing” hal.71)
4. Pagi hari (“Keesokan pagi, bagian terburuk badai sudah berlalu” hal.97)
5. Musim Panas (“kami pernah menghabiskan satu musim panas bersama. Dunia terasa sempit, ya?” hal.168)
6. Senja hari (“Saat senja tiba, Prudence berusaha tidak memperhatikan kenyataan bahwa Joe terlihat sangat tampan di tengah-tengah cahaya api” hal. 56)
*Latar Suasana
1. Kebahagiaan (“Prudence dengan ceria berkata, kita sudah sampai!” hal.46)
2. Ketakutan (“Joe memejamkan mata, mendengar kata-kata yang sudah tidak asing itu membuat kepalanya berdenyut-denyut, hampir menyerupai kibasan baling-baling helikopter saat mereka mulai mendarat” hal.134)
3. Keragu-raguan (“sekarang ia jadi ragu-ragu. Tak ada untungnya membangunkan macan tidur. Jika tak berhati-hati, macan itu akan bangun dan menggigit” hal.157)

D. Penokohan
1. Joe Wilder. Sersan Joe Wilder adalah seorang anggota Marinir Korps Amerika Serikat, dan sebagai seorang Marinir yang setia, Joe selalu membanggakan dan mengamalkan nilai-nilai Korps Marinir yaitu kehormatan, keberanian, komitmen, disiplin, dan tanggung jawab.
(“Joe mengoreksi ucapan atasannya dengan sikap hormat” hal.7 )
(“Tentu saja ia tak mungkin bisa menolak perintah atasan. Ia marinir sejati. Tak mungkin Joe melalaikan tugasnya dengan sengaja” hal.11 )
(“Sewaktu melangkah, Joe berusaha menyingkirkan tumpukan salju dari jalannya” hal.77)
(Joe ingin berbohong, tapi nilai-niai yang sudah dipegangnya selama ini takkan membiarkannya melakukan itu. Seorag Marinir diharapkan menjunjung tinggi nilai-nilai kemiliteran. Marinir tak pernah berbohog, menipu, atau berkompromi. Semua itu sudah mengakar pada diri Joe sejak dulu” hal. 178)
(“Kau Marinir yang baik, Sersan. Aku sangat mempercayai kemampuanmu.
Well, apa yang kau lakukan dengan tetap berdiri di sini, Wilder?” hal. 217)
(“Joe hidup dan bernapas layaknya anggota Korps Marinir. Dia takkan pernah melanggar perintah” hal. 185)
(“Joe benar-benar gentleman, kata Prudence” hal. 186)

2. Prudence. Prudence adalah ‘putri kecil’ Sersan Mayor Martin, ia dibesarkan dalam keluarga militer. Tetapi ia tak begitu menyukai kehidupannya, ia malah lebih senang untuk menjadi seorang guru SD. Sebagai seorang guru berdarah militer, Prudence adalah gadis yang bijaksana, tanggung jawab, pemberani, lemah lembut, baik hati, dan penyayang.
(“Sambil melambaikan buku itu ke arah Joe, Prudence berkata, aku tak ingin membuatmu merasa diasingkan” hal. 57)
(“Kita akan baik-baik saja. Jadi, jangan khawatir, sayang. Prudence memeluk Rosa untuk meyakinkan gadis kecil itu” hal. 76)
(“Potongan mana yang kau mau? Prudence mengulurkan kedua tangan yang masing-masing memegang sepotong apel” hal. 86)
(“Bungee jumping mungkin terlihat seperti menantang maut, tapi kabel elastis itu mencegah kita jatuh, kata Prudence” hal. 150)
(“Prudence tertawa. Kukira itu hanya terjadi di Camelot” hal. 211

3. Richard Martin. Lebih dikenal dengan panggilan Sersan Mayor Martin, ia adalah atasan Joe Wilder di Kamp Lejeune, dan sekaligus ayah dari Prudence. Pada usianya yang mendekati akhir empat puluhan, dengan rambut cepak khas militer yang ujung-ujungnya memutih, ia memiliki suara khas pelatih baris-berbris dan sikap seorang prajurit. Ia adalah seorang yang tegas, penyayang, penuh kejutan, disiplin, dan bijaksana.
(“Saatnya mencocokkan waktu kalian, gentleman. Kata Sersan Mayor Martin, jamku menunjukkan pukul dua siang...persis sekarang” hal. 228)
(“Sersan Wilder, ini suatu kejutan. Sersan Mayor Martin menatap Joe dengan wajah tanpa ekspresi bak pemain poker. Atau tepatnya, Marinir yang berpengalaman” hal. 215)
(“Kau pikir mengapa aku menugaskanmu menemani Prudence ke pegunungan itu?” hal. 216

4. Curt. Curt adalah sahabat Joe, ia dan Joe saling mengenal sejak awal mereka mengikuti pelatihan Marinir. Curt adalah sosok sahabat yang baik, bijaksana, penyayang, peduli, dan ceria.
(“well, aku punya teman yang sepertinya sangat mebutuhkanku, jadi aku datang. Kau mau datang ke sini atau aku yang harus menjemputmu, brengsek?” hal. 205)
(“aku disini, Blue. Daddy mencintaimu tapi saat ini aku sedang sibuk. Ayo masuk lagi ke dalam. Daddy akan masuk sebentar lagi” hal. 206)
(“Saat mendengar Curt tergelak, barulah Joe sadar bahwa permen loli Blue sekarang menempel di tengkuknya” hal. 207)
(“teman Joe itu tampak peduli” hal. 207)
(“Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kekuatan untuk menghadapinya, jawab Curt pelan” hal. 210)
“Yeah, Wilder, jangan sekarang, kata Curt. Aku tidak mau berdiri di depan orang-orang ini sebagai pendamping pria sedangkan kau dan kakakmu bergulat seperti anak kecil” hal. 229)

5. Bill Wilder. Bill Wilder adalah ayah Joe. Bill Wilder adalah seorang pensiunan Marinir, jadi jelas ia memiliki sifat dan karakter yang memang sudah seharusnya dimiliki oleh seorang Marinir. Di sisi lain, ayah Joe adalah orang yang bersahaja, cerdas, humoris, tegas, dan penyayang.
(“Bill Wilder menghargai kekuatan dan integritas anak-anaknya” hal. 201)
(“Ayah Joe memiliki sikap bersahaja dan intelektual tinggi” hal. 202)
(“Suara serius ayahnya membuat Joe merasa tenang” hal. 202)
(“Kita Marinir, Nak. Jadi langsung saja, tak usah berbelit-belit” hal. 202)
(“Kalau begitu hadapilah!, bentak ayahnya” hal. 203)

6. Ellen. Ellen adalah ibu Prudence. Sejak kecelakaan mobil yang dikendarai oleh Prudence dan dirinya, membuatnya hanya bisa duduk. Ellen adalah seorang ibu yang pengertian, penyayang, perhatian, pemaaf, bijaksana, dan lemah lembut.
(“Aku khawatir, ayahmu telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan” hal. 183)
(“Aku tahu, Sayang. Ellen menepuk tangan Prudence dan melemparkan pandangan penuh pengertian” hal. 183)
(“Dari dulu kau anak yang selalu memberikan segalanya, kata Ellen sambil tersenyum” hal. 183)
(“Harus kuakui aku tidak begitu senang mendengar anak perempuanku melompat dari atas menara setinggi itu dalam aksi nekat” hal. 184)
(“Oh, Sayang, Wajah Ellen menunjukkan sikap pengertian antarwanita karena ia menyadari anaknya sudah dewasa” hal. 186)

E. Sudut pandang
Cerita pada novel ‘Stranded With the Sergeant’ ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu.
(“Joe memejamkan mata, mendengar kata-kata yang sudah tidak asing itu membuat kepalanya berdenyut-denyut, hampir menyerupai kibasan baling-baling helikopter mereka saat mulai mendarat” hal. 134)

F. Amanat
Manusia memang bukanlah makhluk yang sempurna. Jika seseorang melakukan sebuah kesalahan bukan berarti ia telah menghancurkan hidup orang lain maupun hidupnya sendiri. Segala yang terjadi memang sudah takdir. Jangan pernah merasa terpuruk dengan amat, segeralah bangkit dengan kehidupan yang baru, dan mungkin akan lebih indah jika dihiasi dengan rasa cinta dengan orang yang juga mencintai kita.

G. Gaya bahasa
Gaya bahasa yang digunakan pada novel ‘Stranded With the Sergeant’ ini sangat menarik. Sehingga pembaca tidak segera bosan setelah membaca bagian awal novel.
(“Sebenarnya saya melakukan bungee-jumping, Sir” hal. 7)

4. Kelebihan 
Novel ini menggambarkan cerita dengan tempat-tempat dan suasana yang tepat, sehingga pembaca dapat terbawa ke dalam suasana cerita ini. Novel ini juga membahas banyak hal mengenai kehidupan para Marinir--Korps Marinir. Sehingga orang-orang awam yang sebelumnya tidak tahu sama sekali, akan menjadi paham walau sedikit hal mengenai Marinir dan kehidupannya. Misalnya, Marinir tidak menyebut ‘tempat tidur’, mereka menyebut benda itu dengan sebutan ‘rak’.

5. Kekurangan 
Novel ini menggambarkan kisah percintaan anatar dua orang yang sudah termasuk usia dewasa. Sehingga, pada novel ini banyak diceritakan mengenai hal-hal yang seharusnya belum boleh dibaca oleh anak yang belum cukup umur.  

6. Saran untuk pembaca
Sebaiknya, pembaca yang masih belum cukup umur, jangan membaca novel ini. Karena novel ini banyak menceritakan hal-hal yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah dewasa. Kita harus menjadi pembaca cerdas yang selektif.
Dan untuk yang sudah cukup umur, novel ini cukup menarik, karena walaupun banyak terselip ‘hal-hal dewasa’ novel ini menceritakan kehidupan Marinir yang tidak melulu kaku, Marinir juga memiliki sisi humoris yang tinggi.



[[ Sebuah karya memang diciptakan untuk dinikmati semua tanpa terkecuali, tetapi jangan lupa cantumkan sumber saat meng copy-paste ]]

1 comment: